Asma Nadia: Niat, Semangat, Berbagi (4)

Image

Pada waktu yang telah dijadwalkan, saya (yang kebetulan bertugas menjadi moderator) memanggil Asma untuk memulai presentasinya. Hanya dalam hitungan menit, para pendengar di aula PTRI Jenewa langsung dibuat terpesona. Asma ternyata tidak hanya seorang maestro penulis. Ia juga pembicara yang baik.

“Adakah hadirin yang tahu kiat untuk menjadi penulis ?” Demikian pertanyaan retoris Asma.

Hadirin yang ditanya tentu diam. Mereka justru ingin mendengarkan kiat tersebut dari sang maestro.

“Menurut seorang penulis terkenal (-penata kata: maaf, saya lupa namanya), kiat menjadi penulis hanya tiga.”

Hadirin semakin terlihat tidak sabar.

“Kiat tersebut adalah: menulis, menulis, dan menulis.”

Hadirin terhenyak, antara senang dan gemas. Namun Asma telah berhasil memecah keheningan suasana, antara dia dan hadirin. Setelah itu dia bercerita panjang lebar mengenai kiat-kiat menjadi penulis yang notabene penuh ragam. Namun tetap, dari semua itu, determinasi untuk selalu menulis, menulis, dan menulis adalah kunci utamanya.

Asma juga bercerita mengenai manfaat dari menulis. Salah satunya, (kalau tidak salah), dia menjadi memiliki kesempatan untuk berkunjung ke banyak tempat, termasuk ke negeri Swiss yang indah. Asma pun dengan antusias menceritakan mengenai salah satu cerita pendeknya, Emak Ingin Naik Haji, yang sudah difilmkan. Bagi seorang penulis, hal ini merupakan sebuah kebahagiaan yang tak bisa dinilai dengan materi.

Usai acara, Asma banyak diminta berfoto bersama layaknya seorang selebriti. Tentu saja, ia adalah selebriti di dunia sastra. Ia adalah selebriti yang telah memberikan kebaikan pada dunia dengan karya-karyanya.***  

http://yasmiadriansyah.com/2012/05/15/asma-nadia-niat-semangat-berbagi-1/);

http://yasmiadriansyah.com/2012/05/22/asma-nadia-niat-semangat-berbagi-2/);

http://yasmiadriansyah.com/2012/05/31/asma-nadia-niat-semangat-berbagi-3/

One response to “Asma Nadia: Niat, Semangat, Berbagi (4)

  1. Saya pernah menyebutkan sebelumnya bahwa ketika remaja saya menyukai tulisan2 Mbak Asma Nadia. Namun terkait pernyataan Mbak Asma di atas saya harus membuat garis demarkasi untuk tidak sependapat dengannya. Senada dengan Henry David Thoreau, saya cenderung melihat “menulis, menulis, dan menulis” dapat dianalogikan seperti menembakkan senapan tanpa mengisinya atau menggunakan kapak tanpa mengasahnya.

    Buat saya dan Thoreau, yang paling penting dalam kepenulisan bukanlah kiat-kiat menulis, melainkan membaca. Tips-tips bagaimana membuat paragraf yang benar, bagaimana merancang plot, dan sebagainya seperti yang biasa didapatkan di kursus-kursus kepenulisan tidak pernah lebih tinggi nilainya ketimbang bagaimana kita menikmati membaca sebagai bentuk apresiasi seni. Sejarah mencatat bahwa penulis-penulis besar di dunia bukanlah mereka yang lulus dari bidang sastra atau jebolan kursus menulis tertentu, melainkan mereka yang sangat gemar membaca.

    Paulo Coelho adalah pemusik sampai usia 30 tahun, sementara Stephen King adalah pembersih lantai sebuah universitas ketika mudanya. Persamaan di antara mereka? Keduanya sangat gemar membaca dan keduanya penulis besar di genre-nya masing-masing.

    One cannot become a brilliant writer unless they’re an avid reader. Itu sebabnya untuk menjadi penulis brilliant kita harus memulai dengan membaca karya-karya penulis dan penyair brilliant seperti Orhan Pamuk, Paulo Coelho, Pramoedya Ananta Toer, Kahlil Gibran, Gabriel Garcia Marquez, Salman Rushdie, Leo Tolstoy, Herman Hesse, Mario Vargas Llosa, Yasunari Kawabata, Gao Xinjiang, Elizabeth Gilbert, JM Coetzee, Jalaluddin Rumi, Henry James, Joseph Conrad, Khaled Hosseini, Pablo Neruda, dan lain-lain. Dalam salah satu catatannya di Other Colours Orhan Pamuk menyebutkan bahwa karir kepenulisannya sangat berhutang budi pada kegemarannya membaca tulisan-tulisan Victor Hugo, Vladimir Nabakov, dan Dostoyevsky ketika dia remaja. Tentu bisa kita simpulkan bahwa tidak akan pernah ada pemenang Nobel Sastra 2006 dari Turki sekiranya Pamuk remaja lebih senang bermain layang-layang ketimbang membenamkan diri dalam petualangan brilliant para tokoh Les Miserables.

    Tidaklah heran kiranya kalau Paulo Coelho pernah menyebutkan, “I don’t believe attending those writing courses will get you anywhere. If you want to be brilliant, just keep reading. And then read some more. And some more. Once you’re great enough, you’ll know what to do with your writing, and the rest will take care of itself.”

    Subhan Zein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s