Memaknai Safari Ical ke Luar Negeri

Nama Ketua Umum Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie, atau Ical, minggu-minggu lalu banyak menghiasi media massa. Kunjungannya ke berbagai negara berpengaruh di Asia Pasifik diberitakan nyaris setiap hari. Intinya, Ical dianggap telah memberikan impresi positif mengenai Indonesia kepada para pemimpin atau elit politik di negara-negara yang dikunjungi.

Safari kunjungan Ical ke luar negeri ini bisa dimaknai dari dua perspektif berbeda. Perspektif pertama adalah dalam konteks internasionalisasi kepentingan Indonesia. Perspektif kedua, yang tak kalah penting dan bahkan lebih nyata, adalah konteks promosi dirinya selaku calon Presiden Indonesia pada pemilihan umum 2014.

Internasionalisasi Indonesia

Menurut reportase berbagai media di Indonesia, Ical berhasil mengimpresi berbagai pemimpin atau elit politik di negara-negara yang dikunjungi. Pemimpin China menyatakan terkesan dengan perkembangan di Indonesia (setelah dijelaskan oleh Ical). PM Singapura Lee Hsien Loong bertanya banyak hal dan mendapatkan penjelasan meyakinkan dari Ical, sehingga sang PM pun menyatakan terkesan.

Terakhir, Ical berkunjung ke Australia dan diberitakan meminta pemerintah Australia untuk lebih memperhatikan berbagai kepentingan utama Indonesia, seperti perlindungan WNI yang dipenjara di berbagai rumah tahanan Australia. Ia juga menyampaikan posisi Indonesia terkait saran perjalanan (travel advise), terorisme, dan isu penting lainnya.

Dari perspektif internasionalisasi kepentingan Indonesia, apa yang dilakukan Ical dapat dikatakan positif. Ical selaku aktor-non-negara turut berdiplomasi bahkan kepada figur-figur yang strategis. Ia telah ‘membantu’ Pemerintah dalam menjelaskan dan meyakinkan pemimpin/elit politik di negara-negara yang dikunjungi, khususnya terkait kebijakan yang menjadi kepentingan Indonesia.

Ical selaku ‘capres’

Sekalipun Ical belum dinyatakan secara resmi sebagai calon presiden dari Partai Golkar, hal tersebut tampaknya hanya menunggu waktu. Di sisi lain, berbagai reportase di media menyebutkan bahwa survei internal Partai Golkar menunjukkan popularitas Ical selaku capres masih belum terlalu tinggi. Popularitasnya bahkan berada di bawah Jusuf Kalla, ‘rival utama’ Ical yang sejauh ini diperkirakan tidak akan dicalonkan Partai Golkar.

Tentu saja rendahnya popularitas, atau tepatnya elektabilitas, tersebut merisaukan Ical. Mengutip Tomi Aryanto (“Bakrie and the Begawan Group”, Tempo, 23/11/2011), sebuah survei telah dilakukan Lembaga Survei Indonesia (bekerjasama dengan Kelompok Begawan, kelompok mantan Jenderal yang mendukung Ical). Hasil survei tersebut menegaskan rendahnya elektabilitas Ical. LSI-Kelompok Begawan pun menyarankan beberapa program guna mendongkrak popularitas sang ‘capres’. Program pertama yang krusial adalah mendapatkan dukungan politik dari luar negeri.

Karenanya, dapat diasumsikan makna safari Ical ke luar negeri sangat kuat berada dalam konteks pendongkrakan popularitas. Ical ingin menunjukkan kepada publik Indonesia bahwa ia dapat diterima pemimpin negara tetangga. Ical ingin memberikan kesan bahwa ia layak menjadi pemimpin nasional. Ical pun ingin menunjukkan bahwa ia adalah seorang capres yang populer di mata masyarakat Indonesia di luar negeri, atau katakanlah kelas menengah, kelas yang terkenal kritis terhadap berbagai dinamika sosio-politik Indonesia.

Pertanyaannya, apakah logika di atas dapat diterima? Saya berasumsi tidak. Hal ini didasarkan pada kenyataan beratnya ‘bagasi’ masalah yang diemban Ical. Bagasi pertama adalah kasus lumpur Lapindo. Dalam hal ini, sejauh kasus Lapindo tidak terselesaikan, Ical akan terus dicap gagal mengatasi masalah yang dianggap ‘mikro’ dalam konteks Indonesia yang besar. Jika ia tidak kunjung ‘membuang’ bagasi sampai tuntas, ia akan terus dihantui citra sebagai capres yang belum berhasil mengatasi masalah mikro.

Bagasi kedua adalah perseteruannya dengan Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan yang kini bekerja di Bank Dunia. Kiranya sudah menjadi rahasia umum bahwa tergesernya Sri Mulyani dari pemerintahan adalah karena adanya ‘goyangan’ Ical. Masalah Bank Century hanyalah ‘pintu’ penggeseran tersebut. Terbukti, ketika Sri mengundurkan diri, masalah Century langsung meredup.

Tantangan bagi Ical adalah tingginya popularitas Sri Mulyani di kalangan kelas menengah. Bagi mereka, Sri adalah ikon reformasi sesungguhnya. Ia berani memecat pejabat korup di kementeriannya. Ia berani berhadapan dengan ‘orang kuat’ seperti Ical. Ketika Sri tergeser, ia bertransformasi menjadi simbol orang baik yang dikalahkan. Dalam konteks ke-Indonesia-an, simbol-simbol seperti ini justru kerap menarik simpati. Kemenangan SBY atas Megawati pada tahun 2004 adalah contoh nyata. Menurut berbagai observasi, salah satu pemicu kemenangan tersebut adalah karena hinaan kepada SBY oleh Taufik Kiemas, suami Megawati. Terbukti publik lebih memilih SBY dibanding Megawati.

Contoh lain kuatnya dukungan kelas menengah kepada Sri Mulyani dibanding Ical terlihat saat Sri melakukan kuliah umum di ANU pada Agustus 2011. Saya yang hadir pada kesempatan tersebut harus mengakui betapa kuat kharisma Sri di kalangan kelas menengah. Fenomena seperti ini terlihat kerap berulang, yaitu hangatnya sambutan publik Indonesia dimanapun Sri bertandang. Sebaliknya, jika Ical melakukan kuliah umum serupa (dan bukan pertemuan terbatas), ia justru akan dihujani pertanyaan kritis, khususnya terkait ‘bagasi’ yang memberatinya.

Sebagai konklusi, jika makna safari Ical ke luar negeri lebih terkait pada kepentingan peningkatan elektabilitas, tampaknya tujuan tersebut belum tercapai. Oleh karena itu, ada baiknya Ical memfokuskan diri pada ‘bagasi’ yang sudah jelas. Tidak saja ini akan bermanfaat bagi masyarakat korban lumpur Lapindo ataupun bagi kelas menengah yang ‘dikecewakan’, namun justru bagi citra Ical sendiri.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s