Asma nadia: Niat, Semangat, Berbagi (3)

Image

Setelah beberapa kali bertukar email, Asma Nadia akhirnya tiba di Swiss. Sudah disepakati tanggal berapa Asma berkenan memberikan pesan singkat di hadapan jamaah iftar (buka puasa) masyarakat Indonesia/muslim di Jenewa. Sudah disepakati pula tanggal berapa lokakarya menulis bagi masyarakat Indonesia.

Saya bertugas menjemput Asma di lokasi ‘writers camp’nya: Le Chateau De Lavigny, Morges. Sebagai ilustrasi, jangankan bagi pembaca umum, bagi masyarakat Indonesia di Swiss pun mungkin tidak banyak yang mengetahui apa dan dimana Le Chateau De Lavigny tersebut.

Ketika menuju ke sana, sekalipun menggunakan GPS (global positioning system), saya sempat kesasar juga. Intinya, Chateau tersebut amat sangat terpencil. Sunyi, di daerah yang jumlah penduduknya sedikit saja.

Setelah menempuh perjalanan dari Jenewa sekitar 40 menit, dengan jalan yang lumayan berkelak-kelok, tibalah saya di Le Chateau De Lavigny. Senyaaap. Untunglah tak lama setelah tiba di tempat, Asma langsung muncul. Subhanallah, penulis handal ini ternyata sangat ramah dan rendah hati. Lebih hebat lagi, semangatnya sungguh luar biasa. Sepanjang jalan ia bercerita tentang proses mendapatkan kesempatan bergabung di ‘writers camp’ di Le Chateau De Lavigny, yang notabene salah satu momen prestisius bagi para penulis profesional mancanegara.

Saya yang kebetulan suka menulis (tapi belum sehebat Asma:)) jadi sekalian belajar secara tidak langsung dengan sang maestro. Dari pembicaraan singkat dalam perjalanan menuju Jenewa tersebut, saya melihat setidaknya ada tiga hal yang menjadikan Asma begitu produktif dan bahkan berpengaruh.

Pertama, Asma mempunyai niat yang tulus. Ia menulis karena ibadah. Ia ingin menyebar kebaikan. Karenanya, ia berusaha menulis dengan kesan dan pesan yang menyerukan kepada kebaikan.

Kedua, Asma memiliki semangat yang luar biasa. Kepergiannya ke Morges, Swiss tentu peluang tak ternilai. Di sisi lain, ia pun terpaksa mengorbankan kebersamaan bersama suami dan anak-anak tercinta. Tidak saja demi karir dan keluarganya sendiri. Dia pun ingin meningkatkan citra penulis Indonesia. Padahal, secara finansial, mungkin tidak terlalu banyak yang ia peroleh dengan bergabung ke writers camp tersebut.

Ketiga, di sela-sela kesibukannya untuk menulis dan menulis selama writers camp, Asma berusaha menyempatkan berbagi ilmu (melalui lokakarya dan berbagi pesan), tanpa minta imbalan, kepada siapapun yang berminat.

Usai ‘pembelajaran singkat’ tersebut, akhirnya kami tiba di PTRI Jenewa. Masyarakat Indonesia yang sudah memenuhi ruangan mungkin sudah tak sabar mendengarkan pesan dari sang maestro.

Ceritanya disambung minggu depan yaaa.:)

***

(Catatan: Bagian (1) dan (2) tulisan ini dapat dilihat pada http://yasmiadriansyah.com/2012/05/15/asma-nadia-niat-semangat-berbagi-1/); http://yasmiadriansyah.com/2012/05/22/asma-nadia-niat-semangat-berbagi-2/)

(Foto: anadia.multiply.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s