Cerpen: Hubunganku dengan Ayah

Image

oleh IBETH

(Dari penata kata: Kali ini, sang penulis muda nan produktif, Ibeth, kembali berbagi sebuah cerita. Sebuah cerita menyentuh, agar kita selalu menyayangi orangtua tercinta. Selamat membaca. Namun sebelumnya, siapkan dulu tisu nan lembut, untuk mengusap airmata yang mungkin tercurah).

***

Hubungan aku dengan ayah, sulit untuk digambarkan. Sesulit menggambarkan hubungan rembulan dan matahari. Saling menyayangi namun tak pernah berdampingan. Kami jarang bicara, atau pun bertatap muka. Karena ayah sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk dengan segala macam kegiatanku juga. Dalam kepingan memoriku ayah adalah sosok yang sangat kuat baik fisik maupun hatinya, namun kali ini kutatap ayah dalam keadaan yang berbeda. Dalam tatapanku kini sosok itu makin mengecil, entah benar atau hanya karena aku kini telah tumbuh dewasa. Ayah yang kini dalam pandanganku terasa sangat rapuh, tertidur lelap dalam kelelahannya melawan waktu. Terbaring dalam ruang Rumah Sakit yang terasa sangat kelabu. Dalam hening, kuamati tiap kerutan yang ada pada raut wajah ayah. Banyak sekali guratan kerutan pada raut wajahnya. Bukan karena usia saja raut itu menua, namun juga karena banyak fikirnya terhadap keluarga.

Dalam rumah kami ayah adalah sosok yang paling disegani. Didikannya sangat keras. Gulungan koran biasa ia pakai jika kami tak bangun sholat di subuh hari, lebih dari ini marah ayah selalu dalam diam. Dalam kerutan wajah ayah, kucoba mereka-reka, bagian mana hasil guratanku. Apakah pada kening saat aku sulit disuruh mengaji atau pada bagian matanya, ketika aku lambat pulang hingga malam hari tanpa mengabari sehingga dia menungguiku diteras dan akhirnya selama dua hari ia tak bicara padaku. Pada guratan itu aku merasa malu, kalau kuhitung mungkin sebagian guratan itu ada karena aku. Selebihnya mungkin guratan yang tercipta pada saat ia harus berkerja keras agar aku dan adik-adik terus kuliah atau saat ia harus berdebat dengan anak-anaknya untuk sebuah permasalahan yang saat ini kufikir entah kenapa diperdebatkan? Guratan saat ia harus menerima kekalahan dari sang waktu dan kini ia pun harus terbaring dalam lemah.

Rambut ayah makin memutih, fikirku terlamun dalam rindu. Kerasnya didikan ayah sungguh dulu aku tak mengerti. Untukku ayah terlalu kaku. Bagiku ayah tak mau mengerti, bukan karena ia tak bisa namun karena ia tak ingin. Sebab itu, dulu kutanamkan sebuah hadis tanpa menela’ah terlebih dahulu. Kusayangi, kucintai, kuhormati ibuku, ibuku, ibuku terlebih dahulu, baru kemudian ayahku. Kutelaah bulat-bulat hadis itu, hingga aku sangat dekat pada ibu dan terkadang lupakan ayah. Padahal jika saja kutelaah, tak akan ada aku tanpa ia sebagai ayah.

Di usianya yang senja ayah sering cemburu, begitu kata ibu. Cemburu akan perhatianku pada ibu yang tanpa cela sedikit pun namun begitu kaku pada ayah. Kakuku ini bukan dibuat-buat adanya, namun tercipta karena waktu yang terlalu lama membatasi ayah dan aku. Rasanya sedikit aneh jika aku bermanja-manja padanya begitu pembelaanku. Namun kini usia telah meredam emosiku, waktu semakin membuatku lebih mengerti pengharapan ayah padaku. Diri pun kini mulai berkaca untuk bersikap lebih baik dan dalam hening berharap semoga tak terlambat.

Ayah masih terlelap dalam tidur, letih sekali sepertinya. Perlahan kulihat jam dinding. Baiknya aku sholat malam, dalam hati kuberfikir. Kuambil air wudhu sebelum bersembahyang, sebagai obat penenang. Aku teringat sepenggal ayat  “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.” (Q.S. Al Anbiya:30). Kuharapkan wudhu dapat membasuh segala kegalauan, karena air bukanlah benda mati. Pun air menyimpan kekuatan. Kuingat kata guru mengajiku dulu bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Zamzam lima syuriba lahu, air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya. Barang siapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh” Subhanallah. 

Setelah sholat lambat-lambat kulantukan doa, kusematkan sebuah pengharapan pada Nya, agar diberi Nya ayah kekuatan dan agar diturunkan Nya pada kami ketegaran.

***

“Sudah subuh nak?” ayah bertanya dalam rintihan.

“Belum, masih jam dua. Ayah mau sholat malam?” sigap kutawarkan bantuan ketika ayah mengangguk tanda sebuah persetujuan.

“Jangan khawatir, ayah akan baik saja. Tak perlu merasa sedih kalau memang itu sudah kehendak Nya” bijak ayah masih terasa. Diusapnya pipiku lambat lambat, disentuhnya rambutku dengan harap, dengan tangan yang membantuku tumbuh, dengan tangan yang menyuapiku, dengan tangan yang menghantarkanku pada saat kini. Ayah pun bersembahyang dalam baring, air mataku tak kunjung jua mengalir.

Batukah aku? tanya itu muncul dalam benakku begitu saja. Kemudian kudengar ayah berdoa, bukan bagi kesembuhannya namun ia lantunkan sebuah doa bagi kebahagian anak-anaknya. Tak tertahan air mataku mengalir, membuncah membasahi raga, meresap kedalam jiwa. Segera kupanjatkan doa ” Ya Robb, Ya Karim, sungguh aku sangat menyayanginya. Tolong Ya Rahman, berikan aku kesempatan sedikit saja untuk membuatnya bahagia” . 

2 responses to “Cerpen: Hubunganku dengan Ayah

  1. Suwun Mas Riyan, sudah berbagi. Tulisan Ibeth mengingatkan saya pada tulisan salah satu idola saya, Orhan Pamuk, yang berjudul “My Father” dan “My Father Suitcase”.
    ===============================================
    Ini versi summary saya dari dua tulisan tersebut:

    Ismet Pasha, the son of the second president, met my father at the presidential palace in Ankara. They got acquainted quickly and spent the night chatting and laughing boisterously.

    When Ismet Pasha brought the subject around to literature, my father asked, “Why don’t we have any world-famous authors?”

    Eighteen years later, my first novel was published, and my father somewhat bashfully gave me a small suitcase. I knew very well why finding inside it his journals, poems, notes, and literary writings made me uneasy: It was the record of an inner life.

    After an awkward momentary silence that often accompanies moments of great emotion, my father resorted to his highly charged nature.

    With an exaggerating language to express his confidence in me or my first novel, he told me that one day I would win the prize that I am here to receive with such great happiness.

    Subhan Zein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s