Rosnida Sari: “Mengajar Bahasa Indonesia”

Dari Penata Kata:

Ada seorang sahabat, sedang studi di belahan Selatan bumi Australia, yang aktif menulis. Di Blog. Insya Allah, kumpulan tulisannya akan naik cetak. Dibukukan!

Sang sahabat tersebut, Rosnida Sari, berbagi salah satu tulisannya. Ada nuansa kritis, memang. Namun setidaknya, semangat mempromosikan Indonesia-nya yang luar biasa.

Mudah-mudahan menyemangati untuk teman-teman. Bahwa menulis dapat melekangkan buah pikiran. Dari kritisi, motivasi, atau sekedar suara hati:).

Selamat membaca.

***

mengajar bahasa Indonesia

 

Akhir July lalu saya ke Melbourne untuk mengikuti pemilihan ketua baru Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sehari sebelumnya ada seminar tentang pendidikan di Indonesia dan dilanjutkan dengan pemberian informasi tentang guru-guru yang mengajar bahasa Indonesia. Salah seorang guru tadi memberikan penjelasan bahwa mereka sangat senang sekali jika ada mahasiswa yang bisa membantu memperkenalkan Indonesia pada murid2 di kota tersebut. Guru tersebut juga bilang, mereka merasa segan untuk meminta tolong pada mahasiswa karena mereka tahu bahwa para mahasiswa tadi juga pasti sibuk dengan tugas2 belajar mereka (otak iseng saya langsung menyambung ”dan pekerjaan juga”hehehe…).

 
Saat mendengar penjelasannya tadi saya baru sadar mengapa sedikit sekali mahasiswa yang terlibat dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah2 disini. Alasannya, mungkin guru-guru tadi segan minta tolong pada mahasiswa dgn alasan diatas.
 
Maka, saat kembali ke Adelaide saya sampaikan apa yang saya dengar pada salah satu dosen yang mengajar bahasa Indonesia. Saya katakan “mohon untuk tidak sungkan untuk meminta tolong jika dibutuhkan utk memperkenalkan Indonesia”. Dan ternyata dosen tadi mendengarkan permintaan saya. Satu minggu lalu beliau menCCkan imel seorang guru pengajar bahasa Indonesia kesaya dan menanyakan apakah saya mau membantu dia untuk memperkenalkan bahasa Indonesia disekolahnya. Misalnya mengajak muridnya untuk berbicara bahasa Indonesia. Tentu saya tidak menolak kesempatan tersebut. Setelah mengajak beberapa teman yg ternyata berhalangan, akhirnya ada seorang teman yang mau membantu saya.
 
Kami kesekolah tersebut dijemput oleh suami guru yang mengajar tadi. Sepanjang jalan kami berbicara ttg hubungan Indonesia-Australia. Pak Patrick (demikian namanya) mengatakan bahwa Kevin Rudd pernah bercita-cita menjadikan Australia sebagai daerah berpenduduk Eropa yang mempunyai hubungan terbaik dengan Asia. Dan ini sudah diwujudkan dgn pengajaran bahasa Indonesia di semua sekolah, juga banyaknya penerbangan dari dan ke Indonesia (terutama Bali). Saat tiba di sekolah, Ibu Lyndal juga mengatakan bahwa di sekolah2 besar mereka punya pengajaran bahasa asing spt Prancis dan German, tapi disekolah kecil mereka hanya mengajarkan bahasa Indonesia saja.
 
Saya sangat menikmati bertemu murid-murid tersebut. Bahasa Indonesia mereka memang belum lancar. Tapi yang penting adalah mereka sudah bertemu dengan native yang bisa mengajak mereka berbicara.
 
Ada hal menarik yang saya juga dapatkan di dalam kelas tadi. Murid-murid itu begitu antusias saat ditanya tentang warna yang mereka ketahui. Saat saya brtanya “ini warna apa?’ sambil menunjukkan gambar baju berwarna merah, mereka lalu menjawab “merah” dan mereka langsung mencari contoh warna merah yang ada di baju mereka. Ada yang menunjukkan kaos kakinya, ada yang menunjuk celana panjang mereka, bahkan ada yang membuka jacket mereka dan mencari warna merah di tali pinggang mereka. Begitu juga saat saya bertanya tentang warna biru,kuning dan hitam. Yang ingin saya katakan adalah, mereka begitu antusias dan tanpa malu-malu menunjukkan bahwa mereka tahu apa yang saya tanyakan. Karena saya belum pernah mengajar di SD di tanah air, saya tidak tahu apakah murid-murid kita juga akan begitu antusias menjawab jika bertemu orang asing.
 
Saat kelas selesai, guru tadi berterima kasih kepada saya dan teman saya. Katanya, SDnya adalah SD yang berada didesa, dan biasanya di desa tidak ada orang asing. Selalu yang dilihat oleh muridnya tadi adalah orang berkulit putih, dan tentunya bertemu orang asing seperti kami adalah sesuatu yang menarik bagi murid-murid itu. Saya katakan pada guru tersebut, saya juga menyangka demikian, karena saat pertama bertemu dan berbincang2 dengan bule, betapa senangnya saya dan itu terkenang-kenang terus sampai dewasa. Artinya sesuatu yang mengesankan bagi kita saat kecil pasti akan kita kenang hingga kita dewasa. Dan saya berharap ini juga akan terjadi pada murid-murid tadi.
 
Saat pulang saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh seorang permanen resident (masyarakat Indonesia yang sudah lama tinggal di Australia.) di Canberra tahun 2006 lalu. Menurut khabar, beliau sekarang sudah pindah ke Malaysia. Katanya, sebenarnya yang memperkenalkan Indonesia itu pada orang asing adalah mahasiswa, karena person to person diplomacy (P to P Diplomacy) lebih berimbas daripada govermnent to government diplomacy (G to G Diplomacy). Dan ini saya kira ada benarnya. Sebagai mahasiswa, kita berinteraksi langsung dengan orang-orang tersebut, baik saat berbelanja di toko, berjalan-jalan atau saat berada didalam kelas. Tapi para diplomat mereka hanya bertemu di lingkungan formal dan meeting saja, sehingga transfer ilmu, budaya dan bahasa tidak akan bisa selancar jika mahasiswa yang melakukannya.
 
Tidak bisa dipungkiri jika Adelaide adalah daerah yang ‘ndeso’ jika dibandingkan dengan Melbourne ataupun Sydney. Ditambah lagi dengan tidak adanya konsulat di kota ini. Bagi mereka yang ingin mengurus semua urusan yang berhubungan dengan kekonsuleran, semua mahasiswa atau orang2 Indonesia disini harus menunggu kunjungan dari Sydney 3 bulan sekali (disini saya baru merasakan perasaan teman2 yang dulu merasa dianak tirikan oleh Jakarta), sehingga rasanya tidak mungkin mengharapkan bantuan dari kedutaan atau dari konsulat. Oleh karenanya, memang sebagai mahasiswa, jika kita ingin memperkenalkan Indonesia, maka berjuanglah sendiri, tanpa mengharap bantuan pada siapapun. ***
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s