Indahnya Demonstrasi ala Australian National University (ANU)

Image

Hari ini, Senin, 14 Mei 2012, mahasiswa dan berbagai elemen civitas akademika telah menggelar demonstrasi yang tergolong masif.

Berbeda dengan makna demonstrasi yang kerap kita dengar dari tanah air, demonstrasi ala ANU ini berjalan meriah, gegap gempita, namun tetap menggetarkan hati tatkala mendengarkan aspirasi yang disuarakan.

Kebetulan, demo ini meneriakkan, “Selamatkan sekolah musik kami” (Save our music school). Sebuah jeritan hati dari para musisi ANU, baik mahasiswa maupun staf sekolah, agar ANU’s School of Music (SM) tidak terkena imbas rencana pengetatan anggaran dari pimpinan universitas. Hal ini mengingat rencana tersebut akan berakibat pada pemecatan staf pengajar dan administrasi SM. Ironinya, bagi yang ingin kembali ke ANU, mereka harus mendaftar ulang. Bisa diterima kembali, bisa juga tidak.

Image

Terlepas dari esensi demonstrasinya, cara yang dilakukan demonstran ala ANU ini bisa dikatakan amat sangat simpatik. Bebagai jenis musik ditampilkan, dari yang meriah ala big band, sampai ensemble gesek musik klasik dan paduan suara ala Sound of Music. Gempita, indah, dan menghibur.

Terlepas dari tema perjuangan yang bernama ‘musik’, cara ini sebetulnya bisa dipakai sebagai salah satu cara simpatik bagi para mahasiswa demonstran di tanah air. Selain makna perjuangan tetap tersuarakan, cara ini terbukti menarik simpati.

Jika merujuk kepada Indonesia, bukanlah rahasia umum jika demonstrasi di negeri tercinta kita kerap diterima dengan kritikan balik dari masyarakat. “Membuat jalanan macet; tidak simpatik; atau bahkan brutal” adalah beberapa reaksi yang kerap dimunculkan publik.

Tentu saja, adalah hak dari kita semua, warga negara, untuk menyampaikan aspirasi kepada para pemegang amanah negara. Namun jika penyampaian tersebut dilakukan dengan baik, kemungkinan besar publik akan semakin memberikan dukungannya, dan kelak memaksa pemegang otoritas berpikir ulang.

Selamat berdemokrasi, dan membangun Indonesia menjadi negeri yang lebih baik lagi. Termasuk dalam hal berdemonstrasi.***

Image

8 responses to “Indahnya Demonstrasi ala Australian National University (ANU)

  1. Sangat impresif. Pesan demonstrasi tersampaikan dengan simpatik. Mereka bisa menarik perhatian dengan cara yang baik, sehingga orang yang sedang lewat, termasuk saya, menjadi tertarik untuk mendengarkan. Thanks for sharing!

  2. Selain karena isu pemecatan seluruh staf pengajar ANU SoM yang notabene adalah musisi-musisi jazz dan klasik papan atas Australia, mereka juga memrotes kebijakan sepihak yang dikeluarkan VC Ian Young mengenai proposal perubahan drastis kurikulum SoM.

    Aku sendiri merasa kagum dengan seluruh proses protes ini. Tidak hanya rally hari ini, tapi mulai dari kampanye facebook, petisi, sampai pembuatan situs oleh mahasiswa SoM, konser 24 jam, sampai konser puncak tanggal 22 Mei yang akan datang. Semuanya terorganisir dengan rapih, cepat, dan melibatkan banyak aspek masyarakat. Sebagai contoh, tadi saat rally di depan Chancellery, ada orang yang membagi-bagikan biskuit buatannya untuk para pendemo, gratis. Konser 24 jam dan rally hari ini pun mendapat dukungan dari toko-toko musik yang secara gratis meminjamkan amplifier dan peralatan lainnya. Belum pihak yang meminjamkan heater, memasak makanan, dan lainnya.

    Sayang submisi perwakilan mahasiswa SoM tidak berhasil disampaikan secara langsung ke VC Ian Young karena ia sedang tidak ada di kantor hari ini. Tapi walaupun berbalur emosi yang menggebu, proses pengantaran submisi tetap santun dan teratur.

    Salut!

  3. Saya dalam perjalanan menuju CEDAM tadi siang ketika melihat demonstrasi ini berlangsung. Berhubung GTP yang saya ikuti akan segera dimulai, saya tidak bisa melihat proses demokrasi kampus ini lebih dekat.

    Terimakasih atas tulisannya, Mas Riyan, sekarang saya mengerti what the fuss was about.🙂

    Subhan Zein

  4. Kalo di indo demo kayak gini bisa gak didenger, pemerintah bisa cuek bebek, karena kita beda dengan australia, mereka yang di demo peka, di kita walau ribut bodo amat makanya kesannya brutal terus

    • Salam Bung Iwan,

      Hehehe, dalam kadar tertentu, pandangan Anda ada benarnya. Terkadang, yang didemo sudah terkunci mata-hatinya.

      Tapi saya yakin masyarakat kita yang berpendidikan, khususnya mahasiswa, sudah semakin banyak jumlahnya. Mudah-mudahan mereka makin kreatif dalam menyuarakan aspirasi.

      Tujuan utama memang suara didengar, dan ditindaklanjuti. Caranya yang bisa berbeda-beda. Tentu saja, ada baiknya cara yang damai, simpatik, dan menggugah bisa menjadi prioritas sahabat-sahabat mahasiswa.

      Salam hangat (di suhu Canberra yang makin dingin:))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s