Aku Miskin karena Emak Bapakku Miskin (Cerpen, oleh Ibeth Danang)

Image

Terik sekali matahari siang ini. Memantul menghangatkan aspal jalan, namun tak terasa panas nya di kakiku yang tak beralas. Sekarang pukul 12 siang lewat sedikit, waktunya berkerja.

Kau mau tahu kantorku? Dia ada di bawah lampu merah perempatan Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Sudah lama aku berkerja di sini, sekitar  sembilan tahun. Dimulai pada usia hampir menginjak dua tahun, di saat kaki-kaki kecil ini belum cukup menahan berat badan sendiri.  

Siang hari saat jam kantor makan siang dan tanggal muda seperti sekarang, biasanya pendapatanku lumayan.  Orang-orang yang berkendaraan itu biasanya lebih pemurah diawal bulan. Sambil mengelap keringat kucoba berjalan kearah sebuah mobil sedan, mudah-mudahan si Bapak berbaik hati dan memberi aku lembaran bernilai ribuan.

Sungguh aku tak ingat siapa yang mengajari aku mengemis ataupun mengamen. Yang aku ingat seluruh keluarga dan tetangga di bawah kolong jembatan jalan TB Simatupang melakukannya. Jadi, ini adalah hal yang biasa. Bahkan aku rasa tak perlu pula dibesar-besarkan.

Kali ini ada mobil bus besar datang, melaju dengan cepatnya. Kalau tadi aku tak lari, mungkin sudah patah kakiku tertabrak. Seperti adiknya si Irah kemarin dulu, kena tabrak mobil yang kemudian kabur begitu saja. Mungkin patah kakinya si Irah akibat kesalahannya sendiri, yang menyeberang jalan sembarangan. Tapi pengendaranya yang kabur setelah berbuat salah tanpa bertanggung jawab itu juga tak benar kurasa. 

Si bus besar berhenti tepat di sisi jalan. Gambar yang ada di bus besar sangat  menarik hati. Ada seorang  anak sedang membaca koran bekas di hamparan ladang sampah. Wajah anak itu mirip Ita, adik ketigaku. Mungkin usianya juga sama, sekitar lima tahun. Di atas gambar itu ada sebuah tulisan: “Ini ruang belajarku…” Kalau tak salah.

Berkaca aku pada si anak di dinding bus kota. Sama tampaknya nasib kita, kawan, tak bersekolah. Jalan raya inilah ruang belajarku. Poster-poster di dinding jalan pun jadi buku pelajarannya. Melihat gambar kawan di dinding bus kota mencuatkan perih dihatiku. Tentunya si kawan ingin bersekolah, seperti halnya aku yang inginkan juga bersekolah.

Namun siapa yang tidak ingin? Hanya orang bodoh yang tak mau sekolah, tak mau belajar, tak inginkan pintar. Tapi kata emak, aku anak yang pintar sejak dulu. Karena tiap pagi kalau emak ada uang sedikit, selalu ia buatkan aku telur ayam kampung setengah matang.

Tapi itu dulu, sebelum empat adikku yang lain lahir. Pintarnya aku, kata emak, sudah tampak dari kecil. Angka-angka pada mata uang dan huruf pada lembarannya, sudah kuhafal dari umur empat tahun. Itulah caraku belajar untuk pertama kalinya. Pada lembaran uang yang lusuh itu, aku belajar berhitung dan membaca.

Kepintaran aku juga selalu diakui Bang Ipin, pemilik warung dan si Endah, anaknya. Buku pelajaran Endah yang kelas lima SD saja aku mengerti. Ingin sekali rasanya aku bersekolah seperti Endah.

Pernah aku merajuk pada emak, agar ia bilang kepada bapak supaya aku bersekolah. Tapi emak tak menganggukkan kepala. Hanya teriakan dan pukulan yang aku terima.

“Mau sekolah pakai apa, hah? Memang uang emak bapak banyak? Pikir pakai otak, besok kita bisa makan saja, udah untung…”.

Tapi aku tak pernah marah atau benci pada emak. Mungkin ia sedang pusing, memikirkan nasib empat anaknya dan juga suaminya yang kawin lagi. Jadi ia berteriak-teriak dan marah padaku. Biar begitu, setelah usai marahnya, dia dekati aku.

Ngertiin yah, emak bapak orang gak punya. Jangan kan buat sekolah, buat makan saja kita susah.”

Setelah itu keluar air matanya.

Walau kami tak pernah berpelukan atau mengenal kata sayang, aku tahu kalau emak sayang padaku. Terlihat dari usapan tangan keriputnya di kepalaku dan kuyu raut wajahnya menatapku. Kalau sudah begitu, rasa bersalah menyelimuti hatiku. “Sudah kulukai hatinya, tak akan lagi aku minta bersekolah,” demikian ikrarku. Walau, rasa itu kadang datang jua.

Dulu sekali, pada malam-malam sebelum aku tidur di bawah hamparan bintang, emak pernah bilang padaku. Kalau saja dulu ia bersekolah, tentu bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. Lulus SD pun tak apa. Paling tidak ia bisa jadi babu. Lalu ia bisa sekolahkan aku, agar nanti tak jadi babu seperti dirinya.

Tapi tak kusalahkan dia karena orang tua emakku pun tak sekolah. Jadi nenek dan kakek pun miskin seperti emak dan bapakku kini. Begitu juga dengan emak dan bapak nenekku sebelum-sebelumnya.

Saat itu pikiranku melayang. Jadi kalau emakku miskin sehingga tak sekolah, tak bisa kerja yang lebih baik untuk dapat sekolahkan aku, lalu bagaimana jika kelak aku beranak? Aku pun tak sekolah, hanya jadi pengemis. Jadi nanti anak dan cucuku pun jadi pengemis lagi?

Begitukah jalannya? Orang yang miskin akan terus miskin karena kebodohannya dan yang kaya-kaya itu akan terus jadi kaya karena ia punya kesempatan untuk jadi lebih pintar? Tuhan, kalau macam itu, salah siapakah semuanya ini? Aku dicacimaki, disebut sampah masyarakat. Kalau boleh memilih, aku pun tak mau jadi pengemis. Aku ingin sekolah.

“Jangan melamun..”

Tersentak aku ketika emak menarik tubuhku ke arah bahu jalan menjauhi si bus besar. 

“Jangan lupa besok pagi-pagi kau harus ke pasar, ada truk beras datang.” Begitu katanya sambil menyuapi si bungsu. 

Baru aku ingat bahwa esok hari Rabu. Pada hari itu, truk beras yang mengantar beras ke toko kelontong Nusa Indah datang. Lambat-lambat kulantunkan doa kepada Tuhan. Semoga saat kuli mengangkut beras, ada lubang besar di karungnya. Supaya ceceran beras yang kudapat lebih banyak, biar kenyang perutku sekeluarga. Kumohonkan pula agar esok hari tak ada trantip. Trantip yang kadang tangannya usil sengaja memegang paha atau buah dadaku yang baru tumbuh pada saat mengusirku.

Tuhan, itu saja doaku kali ini. ***

 

(ilustrasi foto: Pengemis (awidh13.blogspot.com))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s