EDUKASI KEPEMIMPINAN BANGSA

Image

Dari penata kata:

Ada banyak yang ‘tersisa’ dari rangkaian pelaksanaan Hardiknas 2012 di Australia. Salah satunya, liputan di media massa (seperti posting-an sebelum ini).

Menariknya, berdasarkan salah satu liputan media tersebut, sebuah sekolah di ibukota negeri kita, Jubilee, membuat sebuah editorial yang menyentuh. Terkait mengenai pentingnya aspek pendidikan — dalam berbagai lininya — dalam melahirkan para pemimpin bangsa.

Di bawah ini adalah editorial tersebut. Terima kasih kepada Jubilee. Teruslah berkarya bagi Indonesia.

 

***

 

EDITORIAL | Politik Pendidikan,  7 Mei  2012

SEBAGAI “tahun politik”, tahun 2014 justru ditandai oleh kesulitan Indonesia menentukan sosok pemimpin bangsa. Pemilihan presiden secara langsung pada tahun 2014 justru bakal diwarnai oleh ketiadaan calon pemimpin bangsa yang mumpuni membawa Indonesia lepas landas menggapai status negara maju. Sehingga tak berlebihan manakala dikatakan, bahwa, perhelatan politik tahun 2014 ditandai oleh tak adanya stok kepemimpinan nasional, karena dua hal. Pada satu pihak, politisi-politisi senior rendah akseptabilitasnya di mata publik. Pada lain pihak, politisi-politisi muda terjerembab karut-marut korupsi.

Ihwal tak adanya stok kepemimpinan nasional pada tahun 2014 itu dikemukakan oleh Prof. Dr. Sofian Effendi dalam sarasehan “pendidikan dan kepemimpinan” di Canberra, Ausralia. Sarasehan itu sendiri dilaksanakan dalam rangkaian Hari Pendidikan Nasional 2012.

Hal yang kemudian menarik disimak dari pernyataan mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) itu adalah mendesaknya perbaikan sistem pendidikan dalam berbagai tingkatan. Masuk dalam cakupan pendidikan yang dimaksudkan Sofian adalah rekrutmen dan pemberdayaan calon pemimpin, baik melalui jalur pendidikan, partai politik, birokrasi maupun jalur lainnya. Dengan demikian, Sofian berbicara tentang pendidikan dalam spektrum luas yang berpengatuh langsung terhadap prospek terciptanya kepemimpinan nasional.

Mungkin memang tak sepenuhnya disadari, bahwa di negeri ini telah terjadi penyempitan makna pendidikan. Akibat terlampau kuatnya tendensi formalisme, pendidikan dimengerti secara sempit berlangsung dalam ruang-ruang kelas di sekolah. Atau, pendidikan dipahami semata berlangsung dalam ruang-ruang kuliah di perguruan-perguruan tinggi. Dialektika yang bergulir di kelembagaan partai politik (Parpol), organisasi sosial (Orsos) dan di organisasi kemasyarakatan (Ormas) lantas kehilangan makna edukatifnya. Sadar atau tak sadar, kita lalu abai terhadap sumber-sumber daya edukasi yang tersebar luas di luar sekolah dan di luar kampus perguruan tinggi.

Bagaimana pun, sekolah dan kampus perguruan tinggi diperhadapkan dengan sejumlah keterbatasan saat harus memasuki agenda edukasi kepemimpinan bangsa. Sekolah dan kampus pendidikan tinggi memikul tugas-tugas umum memantapkan kemampuan anak-anak bangsa menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan keterampilan. Kendati pun di sekolah atau perguruan tinggi terkonfigurasi agenda edukasi kepemimpinan bangsa, maka orientasinya juga bersifat umum, tak berkaitan langsung dengan terciptanya kepemimpinan nasional. Dengan demikian berarti, Parpol, Orsos, dan Ormas harus memikul tanggung jawab penyelenggaraan edukasi kepemimpinan bangsa. Dan kritik yang dikemukan Sofian Effendi di Canberra itu merupakan penanda gagalnya edukasi kepemimpinan bangsa di kalangan Parpol, Orsos, dan Omas.

Kegagalan ini mutlak disikapi dengan melakukan dua hal. Pertama, revitalisasi keberadaan Parpol, Orsos, dan Ormas agar jangan terus-menerus gagal mencetak kepemimpinan bangsa yang mumpuni. Parpol, Orsos, dan Ormas jangan lagi semata bekerja berlandaskan paradigma “gerakan” dan “pemberdayaan”, tetapi juga “pendidikan”. Kedua, sekolah dan kampus perguruan tinggi diperkuat posisinya sebagai wadah pendidikan karakter. Melalui pendidikan karakter itulah dikondisikan lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa.[]

(sumber: http://www.jubilee-jkt.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1350:edukasi-kepemimpinan-bangsa&catid=42:politik-pendidikan&Itemid=87)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s