Wieke Gur: Duta Bahasa Indonesia di Barat Australia

Image

Dari penata kata:

Kecintaan kita akan lagu biasanya ditentukan dua hal: nada (notasi) dan kata (lirik).

Dalam kaitan itu, khususnya dalam konteks Indonesia, tidak banyak pencipta lirik yang diingat para pencinta musik. Wieke Gur mungkin termasuk dalam kategori yang tidak banyak itu.

Di era 1980an, lirik-lirik buah karya Wieke begitu populer. Kalau kita ingat sebagian lagu yang dinyanyikan, misalnya Elfa’s Singers dan Harvey Malaiholo, sungguh luar biasa. Mengena dan begitu selaras dengan rangkaian nada yang diciptakan musisi legendaris, Elfa Secioria (almarhum).

Sampai saat ini, Wieke telah menghasilkan sekitar 50 buah lagu. Sebagian bahkan mendapatkan penghargaan nasional dan internasional.

Pada tahun 2009, ia menerbitkan “Jatuh Cinta Lagi”, sebuah buku yang berisi latar belakang penciptaan lirik-lirik lagunya yang fenomenal.

Wieke saat ini menetap di Perth, di belahan barat Australia. Ia menjadi konsultan bisnis dan pemasaran. Namun ia tetap berupaya mempromosikan Bahasa Indonesia, bahasa yang begitu ia cintai.

Di bawah ini adalah tulisan Wieke mengenai pentingnya kita, bangsa Indonesia, untuk mendalami bahasa ibu pertiwi. Tanpa henti.

Kepada Mbak Wieke, semoga selalu sukses. Teruslah menjadi duta bahasa ibu pertiwi. Teruslah menjadi duta untuk mengangkat nama negeri. ***

Siapa yang Seharusnya Belajar Bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia di Luar Negeri

Ketika Presiden Amerika Barack Obama mengunjungi Departemen Luar Negeri AS pada hari kedua pelantikannya dan menyapa seorang karyawannya dalam Bahasa Indonesia, peristiwa itu diberitakan ramai-ramai di Indonesia. Seluruh Bangsa Indonesia merasa bangga bahwa seorang Presiden Amerika bisa berbicara dalam Bahasa Indonesia. Walaupun yang diucapkannya hanya “Terima kasih. Apa kabar?”

Ketika Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, Vietnam mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kita semua menyambut gembira berita itu karena merasa disejajarkan dengan Bahasa Inggris, Perancis dan Jepang.

Ketika Bahasa Indonesia tidak lagi populer di Australia, kita merasa sedih, marah dan kecewa. Padahal sampai tahun 1990-an bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa asing yang paling populer di Australia. Banyak sekali sekolah menengah mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Kini, popularitas Bahasa Indonesia di mata para pelajar Australia berada di bawah Bahasa Jepang dan Cina. Jumlah kolese dan sekolah lanjutan yang mengajarkan Bahasa Indonesia pun makin sedikit. Akibatnya banyak universitas yang harus menutup departemen Bahasa Indonesia. Hal ini tidak hanya meresahkan banyak guru dan dosen Bahasa Indonesia karena harus kehilangan pekerjaan tapi juga pemangku kepentingan diplomasi Republik Indonesia di Australia.

Bahasa Indonesia di Indonesia

Bagaimana keadaannya di Indonesia? Ternyata meski digunakan setiap hari, masih banyak masyarakat yang tidak menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mata pelajaran Bahasa Indonesia sangat kurang diminati para siswa. Hasil Ujian Nasional selalu menunjukkan banyaknya siswa yang memiliki nilai ujian Bahasa Inggris yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ujian Bahasa Indonesia. Di antara 6 mata pelajaran yang diujikan, Bahasa Indonesia menempati peringkat tersusah untuk dipelajari.

Masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri pun bahkan lebih banyak lagi yang tidak memedulikan keindahan Bahasa Indonesia.

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa salah satu faktor pemelihara persatuan bangsa adalah bahasa. Bagi generasi sekarang, persatuan yang diperjuangkan oleh pimpinan terdahulu mungkin tidak akan terlalu terasa magisnya. Kesaktian Sumpah Pemuda bisa jadi cukup sulit untuk dipahami karena Indonesia sudah bersatu dan Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa persatuan ketika mereka lahir. Kalau Anda menjadi diplomat di luar negeri atau tinggal di luar negeri mungkin baru akan terasa bahwa Bahasa Indonesia mampu menghadirkan rasa persatuan di kalangan warga negara Indonesia.

Almarhum Anton M. Moelyono pernah berkata, “Sebuah bahasa berpeluang menjadi bahasa internasional karena kecendekiaan dan kemahiran para penutur itu berbahasa”.

Kita selalu merasa bangga dan senang bukan kepalang kalau orang asing mampu berbicara dan menganggap penting Bahasa Indonesia. Sebaliknya kita tidak merasa terganggu ketika sebagian dari kita tidak mahir berbahasa Indonesia.

Jadi sebetulnya siapa yang seharusnya belajar bahasa Indonesia?

*** Wieke Gur (www.wiekegur.com) adalah seorang konsultan pemasaran, pencipta lagu dan pencinta Bahasa Indonesia.

(foto: komunitas.com)

One response to “Wieke Gur: Duta Bahasa Indonesia di Barat Australia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s