AKU TETAP AKAN PULANG (cerpen)

Image

Mendung bergelayut temaram. Awan kelabu berarak pelan. Merambat. Musim gugur Canberra siang itu terasa sunyi. Desir angin dingin makin menambah sunyi hati bagi para pendurja, yang terjebak waktu senjakala di kota mungil gerbang Australia.

Tak terkecuali dengan Ananta. Sudah sekitar satu jam ia duduk di sebuah kursi, di pelataran resto Zambrero yang terletak di samping Menzies, perpustakaan utama Australian National University (ANU). Burrito yang ia santap sudah tandas setengah jam yang lalu. Kini, dengan hanya ditemani teh hangat pengusir dingin, pikirannya menerawang tak tentu arah.

Ia tengah galau. Studi Master-nya di bidang Public Policy, Crawford School, ANU sudah usai. Tiga minggu lagi ia akan diwisuda. Orang tua dan adiknya semata wayang Hanna akan datang ke sini untuk menyaksikan acara kelulusannya.

Harusnya Ananta bahagia. Namun ia galau dalam dua pilihan yang sulit. Ia baru saja mendapatkan tawaran bekerja di Westfield, sebuah perusahaan besar Australia yang tengah berekspansi ke Indonesia. Karena latar belakang studinya, ia diharapkan dapat membantu perusahaan tersebut. Salah satu eksekutif perusahaan telah memberikan jaminan bahwa Ananta pasti akan diterima. Pengetahuan Ananta di bidang birokrasi Indonesia yang terkenal pelik tampaknya telah menawan Westfield.

Di sisi lain, Ananta merasa sedih jika tidak kembali ke bumi pertiwi yang ia cintai. Ia ingin turut berjuang, khususnya dalam pemberantasan korupsi yang begitu merajela. Kebetulan tesis S-2nya mengenai hal itu. Kalaupun ada kendala dari impiannya adalah dari titik mana ia harus memulai. Apakah bergabung dengan Transparency International, Komisi Pemberantasan Korupsi, atau LSM lokal seperti Parliament Watch.

Ananta menjadi galau karena tawaran di Australia sudah demikian nyata. Tinggal melangkah dan, abrakadabra, ia langsung bekerja. Sementara untuk kembali ke tanah air, ia masih harus berjuang, termasuk berjuang dalam ketidakpastian tempat kerja dan berapa gaji yang akan diperoleh. Di sisi lain, Alexa kekasihnya juga meminta agar ia tetap tinggal di Australia. Gadis Indo nan cantik itu bahkan sempat ‘mengancam’ untuk memutuskan hubungan seandainya Ananta bersikeras kembali ke Indonesia.

“Ta, loe kok gue perhatiin melamun terus dari tadi. Ada masalah?” Teguran Iwa langsung menghentikan terawangan pikiran Ananta.

“Betul Wa. Aku sedang bingung. Mungkin bagi orang lain ini masalah sepele. Tapi buatku ini cukup dilematis.”

“Boleh gue dengar? Siapa tahu gue bisa berbagi saran.”

Ananta tersenyum kepada sahabat baiknya ini. Mereka memang sering berdiskusi dan berbagi solusi. Iwa merupakan mahasiswa Master di bidang ekonomi sehingga sering menjadi narasumber bagi Ananta untuk isu-isu ekonomi. Iwa pun selalu senang mendengarkan semangat Ananta yang dikenal sebagai pemikir antikorupsi Indonesia.

Setelah mendapatkan tawaran sharing dari Iwa tersebut, akhirnya mengalirlah kisah kegalauan yang tengah dihadapi Ananta. Iwa mendengarkan dengan tekun. “Oke, gue paham situasi loe. Pertama, gue ucapin selamat dulu ke loe yang dapat tawaran dari Westfield. Nggak banyak orang Indo yang bisa seperti loe. Loe bisa sekolah di ANU atas biaya sendiri, tanpa beasiswa, tapi bisa survive dengan bekerja paruh waktu di berbagai perusahaan dan NGO di sini. Loe jelas nggak wajib pulang karena nggak ada ikatan beasiswa.”

Iwa melanjutkan, “Tapi gue yakin sekali passion atau semangat loe adalah pemberantasan korupsi. Loe pengen banget pulang ke Indonesia. Masalahnya, loe belum punya pegangan mau ngapain di sana nanti. Pulang hanya berbekal ijazah bukan jaminan loe bakal sukses, atau survive sekalipun.”

Suasana hening sejenak.

“Masalah loe mungkin akan mendapatkan secercah harapan kalau ada yang loe bisa bawa dari sini, tidak sekedar mengharapkan loe bakal dapat apa di tanah air. Ada satu peluang yang mungkin loe bisa garap. Di University of Canberra ada satu pusat kajian namanya Centre for Governance. Gue dengar mereka sangat terbuka dengan ide-ide penciptaan pemerintahan yang bersih dan kerap memberikan bantuan bagi para LSM negara berkembang yang berjuang di bidang itu. Saran gue, loe buat saja proposal pembentukan LSM di Indonesia yang fokus terhadap pemberantasan korupsi. Buat loe kan substansi hal-hal seperti itu mudah saja, seperti membalikkan telapak tangan. Nah, kalau proposal loe diterima, loe bisa pulang dengan tenang. Secara finansial relatif mendapat dukungan dari Centre tersebut. Dan secara passion, loe tetap bekerja di bidang yang loe sukai.”

Ananta terbelalak mendengar itu. “Gila, aku nggak kepikiran sampai ke sana. Padahal aku sempat beberapa kali bertandang ke Centre tersebut. Sebuah saran yang sangat brilian. Thanks Bro, you are a true friend.”

Ananta langsung melirik jam tangannya. Pukul 2.30. Berarti dia masih ada waktu untuk mengunjungi Centre for Governance, University of Canberra (UC). “Bro, aku langsung ke UC ya. Mumpung masih ada waktu. Aku ingin berkonsultasi dengan mereka dan menjajaki gagasan yang kamu sampaikan tadi.”

Sure. Hati-hati di jalan, kelihatannya sebentar lagi hujan.”

***

Ananta menginjak keras pedal rem Mitsubishi Lancer-nya. Setelah memacu mobil, dalam hitungan 15 menit ia sudah tiba di pelataran parkir University of Canberra yang terletak di Timur Laut ibu kota Australia tersebut. Dengan berlari kecil karena rintik hujan sesekali menerpa, ia memasuki kantor Centre for Governance.

Setelah menyampaikan maksud kedatangannya kepada seorang resepsionis, Ananta langsung berhadapan dengan pejabat yang menangani capacity building for corruption erradication. Ia pun bercerita panjang lebar mengenai gagasan pembentukan LSM pemberantasan korupsi di Indonesia. Ia tidak mengalami hambatan berarti dalam ‘presentasi dadakan’ tersebut karena bidang itulah yang menjadi fokus perhatiannya selama ini. Selain itu, ia juga pernah memenangkan kompetisi public speaking di ANU. Berbicara secara personal maupun di hadapan publik bukanlah masalah bagi Ananta. Ia bahkan sangat menikmatinya.

Dua puluh menit kemudian, Ananta dan pejabat tersebut berjabat tangan. Wajah mereka merekahkan senyum. Ananta apalagi. Ia yang tadi siang sempat bermuram durja, kini berbalik 180 derajat. Ia tampak bahagia dan begitu bersemangat.

Thank you very much. I will come here to see you again tomorrow at 11am with the proposal. This evening I will complete it.”

No worries, Ananta. We really appreciate this kind of ideas and enthusiasm. Certainly I look forward to seeing you tomorrow.”

Sekalipun sore tetap berselimut awan kelabu disertai rintik hujan yang makin menderas, ia keluar kantor dengan sumringah. Ia akan segera kembali ke Unilodge, asrama mahasiswa ANU dimana ia tinggal. Ia ingin segera menyiapkan proposal pembentukan LSM antikorupsi. Dengan bekal intelektual dan pengalaman organisasi yang ia miliki, ia hanya memerlukan 2-3 jam untuk menuntaskan proposal tersebut.

Namun Ananta juga merasa perlu untuk langsung mengabarkan Alexa, kekasihnya yang telah menemani hari-harinya dalam satu tahun terakhir. Alexa yang masih memerlukan satu tahun lagi untuk menyelesaikan studi Master-nya di bidang Contemporary Arts harus ia segera beritahu mengenai rencana masa depannya. Masa depan mereka, tepatnya.

Dalam guyuran hujan yang semakin deras, Ananta tak lama kemudian sudah tiba di kediaman Alexa di kawasan Braddon, sekitar pusat kota Canberra. Alexa masih tinggal dengan orangtuanya, dengan Ayah asal Australia dan Ibu dari Indonesia. Mengetahui Ananta datang dalam keadaan setengah basah kuyub, Alexa langsung menyiapkan minuman cokelat hangat. Gadis cantik berparas Indo tersebut memang terlihat sempurna bagi banyak orang. Cantik, cerdas dan memancarkan cahaya Asia jika dibandingkan dengan individualisme Australia. Mereka berdua kerap menjadi pembicaraan untuk topik pasangan yang didambakan para pencari cinta.

Setelah menenggak cokelat hangatnya, Ananta menceritakan kepada Alexa tentang hasil kunjungannya ke Centre for Governance. Awalnya, Alexa terlihat bersemangat. Namun ketika mengetahui maksud utama kekasihnya adalah kembali ke Indonesia untuk membentuk LSM antikorupsi, cahaya wajahnya langsung meredup.

“Berarti kamu tetap akan pulang? Kamu menolak tawaran dari Westfield?”

Ananta mengangguk pelan. Matanya menyorotkan permintaan yang amat sangat. Ia menginginkan Alexa mengikutinya, kelak setelah gadis itu menyelesaikan studi. Dalam bayangannya, ia bekerja penuh waktu di LSM, sementara Alexa bisa melakukan bisnis di bidang arts yang memang ia sukai.

“Aku sempat bicara dengan Mamah. Ia menyerahkan sepenuhnya kepadaku, apakah akan ke Indonesia untuk kelak menikahi kamu, atau tetap tinggal di Australia.” Alexa berbicara lirih. “Namun hatiku saat ini lebih memilih untuk tinggal di Australia. Bukan karena aku tidak mencintai kamu. Bukan pula karena aku tidak mencintai negeri yang separuh jiwanya ada dalam diriku. Melainkan karena aku ingin mengembangkan bidang arts yang aku sedang dalami. Aku merasa bidang tersebut akan lebih berkembang di sini.”

Suasana hening. Wajah bahagia Ananta yang dibawa dari UC langsung menguap. Alexa pun tampak ingin menangis. “Kalau kamu tetap pulang, aku khawatir hubungan kita tidak bisa dilanjutkan. Tujuan kita sudah tidak sejalan lagi.”

Serasa ada palu godam menghantam Ananta. Hatinya bagai terkoyak, antara impian membangun negeri dan hidup bersama kekasih yang sangat ia cintai. Dua impian yang ternyata tidak bisa disatukan. Dan waktu yang ia miliki terasa begitu genting. Ia harus segera memutuskan. Ia bahkan sudah berjanji untuk menyerahkan proposal ke UC pada esok hari.

Ananta berdiri dari duduknya. Antara rasa sedih mendalam dan keinginan kuat untuk berjuang bagi negerinya, ia lantang berucap. “Aku akan tetap pulang. Apapun situasinya, aku akan tetap pulang. Kalau kamu mau kelak hidup denganku, ikutlah denganku. Kalau tidak, berarti hubungan kita harus diakhiri!”

Ananta langsung berbalik badan. Tanpa banyak bicara, ia keluar dari rumah Alexa. Hujan lebat disertai kilat menyambar tidak terlalu dipedulikannya. Dalam hitungan detik, ia meninggalkan pekarangan rumah Alexa. Alexa hanya diam, menatap wajah kekasihnya dengan air mata tertahan. Gadis itu tidak tahu apakah masih bisa melihat wajah yang selama ini telah sangat baik dalam bersikap. Alexa hanya mematung di pintu rumahnya.

***

“Alexa, cepat ke Canberra National Hospital! Ananta baru masuk emergency room. Tadi sore di Northbourne Avenue mobilnya ditabrak sebuah truk besar. Aku tadi ditelepon pihak rumah sakit dan aku sekarang sedang on the way ke sana!” Suara Iwa di ujung telepon seakan menyambar ulu hati Alexa yang sedang berbaring di kamar. “Oh no!” ujar Alexa spontan. “I’ll be there in minutes.”

Setiba di rumah sakit, Iwa dan Alexa mendapatkan penjelasan bahwa mobil Ananta melaju dengan kencang. Ketika akan belok ke kanan dari Northbourne Avenue, sebuah jalan protokol Kota Canberra, ke Jalan Barry Drive menuju Unilodge, ia ditabrak sebuah truk besar. Belum jelas siapa yang salah. Tapi tampaknya faktor hujan deras dan Ananta yang menerobos lampu merah yang menjadi penyebab utamanya.

Namun hal-hal tadi tidak terlalu dihiraukan Iwa dan Alexa. Mereka tak sabar ingin mengetahui nasib Ananta. Dan baru jam 21.00, atau empat jam setelah tindakan medis di emergency room, dokter keluar dari ruangan. Dokter menjelaskan bahwa luka yang diderita cukup parah karena mobil Ananta terbalik tiga kali. Kaki kirinya patah tapi sudah dioperasi. Namun yang mengkhawatirkan, sampai saat ini ia masih koma. Masalahnya dokter tidak bisa menjamin komanya akan berlangsung sampai kapan.

Iwa tertegun mendengar penjelasan dokter. Alexa menangis sesegukan. Mereka tidak menyangka kondisi sahabat dan kekasih tersebut sedemikian parahnya. Alexa bahkan merasa sangat bersalah. Ia merasa kecelakaan mobil Ananta dipicu oleh kemarahan di rumahnya sore tadi.

Kondisi Ananta memang mengkhawatirkan. Satu hari setelah kecelakaan, ia masih koma. Ketika orangtua dan adiknya Hanna datang ke Canberra dua hari setelah kejadian, ia masih koma. Bahkan setelah satu minggu pun, ia masih koma. Dokter yang menangani menyatakan bahwa kondisi tubuh Ananta sempat menunjukkan sinyal membaik. Namun ia tidak bisa memastikan kapan Ananta akan terbangun dari koma. Tubuh atletis tersebut terlihat semakin menyusut.

Baru pada hari kesembilan, ada tanda pergerakan dari tubuh Ananta. Jari tangannya mulai bergerak pelan. Sontak tidak lama kemudian orangtua Ananta, Hanna, Iwa dan Alexa langsung mendatangi rumah sakit. Dokter membolehkan orang-orang terdekat tersebut untuk masuk. Namun dokter tidak memberikan jaminan bahwa Ananta sudah akan pulih. Ia merasa tanda-tanda tersebut lebih seperti mukjizat.

Benar saja, seperti ada kontak batin antara mereka, tidak lama kemudian kelopak mata Ananta mulai bergerak. Ibunya langsung menangis haru dan mendekat ke wajah putra tersayangnya. “Bangun, Nak. Ibu rindu kamu.” Ayah Ananta mengecup kening putranya. Hanna dari tadi mengelus lengan kanan kakak satu-satunya yang ia miliki.

Sorot mata Ananta yang sayu menatap mereka satu persatu. Ia berusaha tersenyum. Ia juga menatap Iwa. Dan ketika matanya beradu dengan Alexa, sorot sedih langsung memendar, lemah. Agaknya memori terakhir tatkala bertemua Alexa di sore itu masih melekat erat. Padahal ia sudah koma selama sembilan hari.

“Alexa,” Ananta memanggil, pelan sekali. Alexa bergerak mendekat ke wajah Ananta. Matanya masih sembab. Ananta terlihat berusaha keras ingin menyampaikan sesuatu kepada Alexa. Entah mengapa, tiba-tiba Monitor Electrocardiogram (ECG) memberikan sinyal bahaya. Lampu darurat di ruangan langsung menyala. Belum sempat dokter dan perawat tiba di ruangan, Ananta menyampaikan sesuatu kepada kekasih hatinya, Alexa. Dengan nada terputus-putus, Ananta berucap pelan. Lemah sekali.

“A..lex..xa. A..a..ku… a..kan puu…lang.” ***

(Cerpen ini sudah pernah dikirimkan ke media cetak dengan nama pena; Ilustrasi gambar: http://www.econsm.com)

4 responses to “AKU TETAP AKAN PULANG (cerpen)

  1. Selamat.
    Bagus sekali ceritanya.
    Sayang. Ananta yang begitu hebat,
    tapi tidak hati-hati dalam bertindak.
    Jadi percuma saja.
    Terima kasih.
    Salam.

  2. Gak nyangka kalau Adrian hebat mengolah kata menjadi cerita. Salut!! satu masukan aja, mungkin akan lebih baik kalau di beberapa bagian ceritanya tidak terlalu berlebihan dimelodramatisir…jadi mirip naskah sinetron…hehehe…

    Tapi overall, salut akan cerpennya…dan kayaknya gua tahu tokoh2 yang dimaksud:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s