Apresiasi bagi petinggi negeri

Kontroversi tersebut, setidaknya sampai saat ini, telah mereda.

Berbagai demonstrasi anti kenaikan harga BBM mulai melunak. Seusai DPR memutuskan pasal alternatif pada 31 Maret dini hari, dan Presiden RI pada 31 Maret malam hari menyatakan mengikuti keputusan tersebut, isu kenaikan harga BBM terhenti. Setidaknya untuk sementara waktu.

DPR

Dalam konteks tersebut, apresiasi layak diberikan kepada para petinggi negeri. DPR dengan keputusannya adalah salah satu yang layak diapresiasi. Karena keputusan yang memberikan waktu bagi pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga minyak mentah (Indonesian Crude Price/ICP) dalam waktu enam bulan, dengan ambang batas 15 persen dari patokan harga yang tertera di APBN, bisa dikatakan sebagai jalan tengah.

Tentu saja kontroversi masih melekat dalam keputusan tersebut karena masih memberikan celah bahwa harga minyak akan dinaikkan (atau tepatnya: subsidi dikurangi) setelah perhitungan enam bulan jika nilainya menyamai atau melebihi 15 persen. Dan berarti kekhawatiran masyarakat akan kembali berulang. Karenanya, ada baiknya DPR juga mulai berpikir untuk mengatasi permasalahan tidak hanya dalam isu subsidi BBM secara mikro, namun perlu melihat berbagai aspek sosio-politis secara makro.

Pemerintah

Apresiasi juga layak disematkan kepada Pemerintah. Atau lebih khusus lagi, kepada Presiden SBY. Keputusan menunda menaikkan harga BBM setidaknya telah meredakan kemarahan mahasiswa-masyarakat, sebuah kemarahan yang telah berlangsung dalam beberapa minggu terakhir. Terlepas dari aspek beban ekonomis terkait APBN, kekhawatiran masyarakat umum sebenarnya sederhana saja. Mereka tidak ingin merasakan hidup yang lebih berat dari kondisi sekarang yang sudah cukup berat.

Dari berbagai suara masyarakat yang tertangkap media, atau bahkan yang disampaikan melalui pelbagai respons dalam blog ini, sulitnya penerimaan masyarakat tidak hanya berkisar pada isu BBM. Ada derajat ketidakpuasan, atau bahkan ketidakpercayaan, terhadap pemegang kuasa. Korupsi menjadi pusaranya. Bukankah Bapak Presiden sendiri pernah berucap lantang, “Uang negara dirampok.” (Kompas, 20/10/2011). Andaikan ‘perampokan’ tersebut bisa direduksi semininal mungkin, ada harapan tingkat ketidakpercayaan bisa dikoreksi.

Terkait asumsi yang menyebutkan bahwa ICP sangat bergantung pada harga minyak dunia, tidak perlu menjadi jenius untuk memahaminya. Berarti Indonesia tidak steril terhadap dinamika dunia, termasuk politik minyak internasional. Dalam konteks tersebut, bersitegangnya Amerika Serikat dan Iran kerap dijadikan alasan utama (Pepe Escobar, the US-Iran Economic War, ‘Asia Times Online’, 7/1/2012). Kalau memang demikian adanya, tidak ada salahnya menjadikan isu ini sebagai salah satu kepentingan utama kebijakan luar negeri RI. Indonesia yang sudah dan terus memainkan peran sebagai ‘bridge-builder’ dalam politik internasional, dapat saja melakukan pendekatan kepada kedua negara tersebut. Bukankah Indonesia berhubungan baik dengan AS dan Iran? Bukankah ‘stature’ tersebut tidak dimiliki oleh banyak negara lain? Artinya, demi kepentingan nasional pemeliharaan stabilitas ekonomi nasional, tidaklah salah jika Indonesia berperan lebih aktif dalam konstelasi pertarungan politik minyak dunia.

Terkait subsidi, saya termasuk yang percaya bahwa secara perlahan subsidi sejatinya dapat dikurangi. Kebijakan subsidi yang telah berlangsung beberapa dekade cenderung menyamarkan keadaan riil. Masyarakat telah terlalu lama dininabobokkan. Akibatnya, kebijakan tersebut tidak dapat dibalikkan dalam hitungan semalam. Perlu perencanaan jangka panjang, tanpa harus mengandalkan tekanan harga minyak dunia. Perlu sosialisasi. Bahkan, yang lebih diperlukan bukanlah bantuan tunai dan sejenisnya. Yang diperlukan adalah insentif agar masyarakat bisa terus berproduksi. Berikan umpan, dan bukan ikannya. Terlebih, dalam kacamata politis, isu bantuan langsung kerap disandingkan dengan praktek-praktek politik yang mengundang tanda tanya.

Mahasiswa-Masyarakat demonstran

Terakhir, kepada mahasiswa-masyarakat demonstran, mereka semualah yang layak mendapatkan apresiasi sesungguhnya. Sekalipun cercaan tidak sedikit diterima, namun berkat determinasi dan daya juang mereka, kebijakan kontroversial tersebut dapat dihentikan, setidaknya untuk sementara waktu.

Ke depan, kita harapkan teman-teman mahasiswa juga makin melengkapi perjuangan melalui ide dan gagasan. Memang terkadang hal-hal seperti itu tampak tak terdengar oleh pemegang kuasa. Tapi yakinlah, jika perjuangan teman-teman lebih bersinergi, mudah-mudahan penerimaan masyarakat (yang tak ikut demonstrasi) menjadi lebih tinggi. Teruskan upaya dialog dan debat akademis. Dan aksi demonstrasi fisikal menjadi pilihan terakhir tatkala telinga penguasa sudah dirasa tertutup sama sekali.

Semoga Indonesia selalu mendapatkan perlindungan dari Allah Yang Maha Memiliki segalanya.***  

 Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s